Evolusi Taktik dan Strategi Sepakbola Modern

Senin, 19 Desember 2011

Membaca evolusi taktik dan strategi sepak bola tidaklah mudah. Namun kita bisa sedikit mengerti dengan melihat perkembangan saat ini. Beberapa nama membawa perubahan besar dalam taktik permainan sepak bola dewasa ini. Ada orang baru maupun orang lama. Johan Cruyff contoh fenomenal, tidak hanya sebagai pemain, tapi sebagai pelatih dan direktur pembinaan pemain muda. Barcelona saat ini telah merasakan sentuhan emasnya.
Evolusi taktik dalam sepakbola tidak melulu terkait dengan formasi, namun juga pada pembentukan pemain, inilah yang disadari benar oleh Cruyff. Barca pada akhir dekade 90-an dan awal 2000-an begitu dongkol meliaht prestasi marid yang dalam 6 tahun mampu merebut 3 trofi liga Champions Eropa. Barca kala itu mkasimal hanya sampai semifinal, kandas oleh digdaya Madrid.
Lihat barca saat tahun 2005 sampai sekarang. Mereka sukses merengkuh 3 trofi Champions dari 2 pelatih berbeda, Frank Rijkaard dan Josep Guardiola. Keduanya berhasil membawa barca juara dengan komposisi 4-3-3. Bedanya adalah komposisi pemain era Guardiola lebih seimbang, terutama di lini tengah. 4-3-3 era Rijkaard di lini tengah diisi poros Iniesta-Deco-Xavi. Kelemahan utamanya adalah Barca sangat lemah dalam bertahan, mengingat ketiganya tidak mempunya cukup ability-kemampuan bertahan yang baik. Pernah pada musim 2006/2007 Rijkaard bereksperimen dengan 3-4-3, menambahkan seorang gelandang bertahan murni di tengah, yang diisi waktu itu oleh Thiago Motta ataupun Edmilson, namun hasilnya sangat mengecekan. Karena lini belakang menjadi korban.




Guardiola menyadari kekurangan pendahulunya dengan cermat. Dia mengkreasi 4-3-3 dengan seorang gelandang bertahan, Sergio Basquets. Akhirnya Barca mampu bermain stabil dalam menyerang dan bertahan. Konsep 4-3-3 ini sangat mirip dengan total footbal Belanda.
Di era Rijkaard 3 penyerang diisi oleh Eto’o, Messi dan Ronaldinho yang tidak jauh beda dengan Guardiola- Messi, Vill dan Pedro. Artinya, memang lini tengah menjadi sesuatu yang sangat penting. Hal inilah yang menjelaskan keberhasilan Real Madrid menguasai Eropa di akhir 90-an. 
Saat itu Real Madrid mempunyai seorang maestro, Fernando Redondo. Seorang pemain jenius yang mampu menjalankan tugas sebagai gelandang bertahan sekaligus playmaker. Di 2 era kepelatihan Jupp Heykens dan Del Bosque, madrid memainkan 4-3-3. Poros tengah diisi oleh Redondo yang secara bergantian didampingi oleh Seedorf, McManaman, Makalele, Karembeu, Helgeura. Di depan ada secara bergantian Madrid diisi oleh Morientes, Raul, Pedrag Medjatovic, Davor Suker, Anelka.
Melihat perbandingan striker antara Madrid dngan Barca sangatlah berbeda tipe bermainnya. Barca mempunyai para striker yang mampu bermain menyisir semacam Messi, Villa, Pedro dan Hendry. Sedangkan Madrid diisi kala itu oleh striker murni. Itulah yang menjelaskan evolusi takstik strategi yang terjadi. Barca saat ini telah memainkan sepakbola modern yang memaksimalkan seorang pemain sayap ataupun striker untuk menguasai sisi lapangan. Perbedaan itu terjadi karena memang perbandingan yang saya tunjukkan adalah di era yang berbeda.
Madrid era Redondo dan Zidane bermain cantik dengan menguasai seluruh area, bola mengalir saja. Lihat Figo yang bermain di sisi namun lebih sering bermain menusuk ke tengah, begitu juga Santiago Solari. Praktis yang mampu bermain menyisir murni adalah Steve McManaman. Saat itu madrid mengandalkan tusukan bek sayap mereka, Roberto Carlos dan Michael Salgado. Tapi permainan Madrid saat itu sangatlah mirip dengan Barca saat ini. Penguasaan bola dan tiki-taka yang nyaris sempurna. Alex Ferguson di musim 1999/2000 mengatakan bahwa Madrid bermain seolah-olah mereka berasal dari planet lain.
Tidak banyak klub yang saat ini mampu memainkan formasi 4-3-3 secara utuh. Jose Mourinho adalah orang pertama yang memodifikasi 4-3-3 menjadi 4-2-3-1. Mou yang lebih mementingkan hasil akhir daripada permainan indah, menempatkan 2 gelandang bertahan dibelakan 3 gelandang serangnya. Di Chelsea Mou menugaskan Essien, Makalele, Maniche, Obi Mikel dan Ballack. Mou memilih dengan penyerang tunggal yang dibantu oleh 2 winger dan seorang gelandang kreatif dibelakang Target Man. Para winger ini oelh Mou dipercayakan ke Damien Duff, Wright Philips, Robben, Malouda dan Joe Cole.
Formasi ini lebih efektif, namun seringkali tidak enak untuk ditonton. Di era Anchelotti, Chelsea mampu bermain lebih cantik, karena mengubah gaya bermain menjadi 4-3-3 yang kadang berganti menjadi 4-1-2-1-2 berlian. Formasi 4-3-3 Anchelotti menempatkan Ballack dan Lampard berdampingan, ditinggallah seorang gelandang bertahan yang sering ditempati Essien.
Di Real Madrid saat ini Mou berusaha menerapkan 4-2-3-1 yang bsa bermain cantik. Ditandai dengan pembelian Oezil, yang dimainkan di belakang striker tunggal. Nyatanya Oezil bermain tidak sebagai second striker atau Trequartista, namun lebih menjadi playmaker. Bisa jadi Mou di musim 2011/2012 akan meniru permainan Barca dengan menduetkan Nuri Sahin dan Oezil, serta menempatkan gelandang bertahan yang diisi oleh Kedira, Altintop ataupun Xabi Alonso. Di sektor penyerang nampaknya Mou akan menempatkan CR7 di sisi kiri dengan Higuain sebagi penyerang utama. Penyerang di sisi kanan inilah yang selama ini menjadi kendala.
Mou melihat Di Maria bukanlah seorang pemain sayap yang haus gol seperti Ronaldo atau Pedro di Barca. Karena itulah didatangkan Jose Maria Callejon dari Espanyol. Bila rencana Mou berhasil, rasanya Barca tidak boleh lagi bersantai-santai. Ini sebenarnya sudah diantisipasi oleh barca dengan memboyong Alexis Sanchez, berharap stok penyerang sayap tetap ada dan bisa rotasi. Saya pribadi melihat Liga Spanyol adalah ruang yang paling mudah dan tepat melakukan eksperimen, karena permainannya tidak sekeras Liga Itali dan tidak seberat Liga Inggris. Para pemain mampu beradptasi dengan formasi-formasi baru dengan lebih cepat.






Sumber :  http://ibnucloudheart.blogspot.com/

0 komentar:

Poskan Komentar

Ruang Diskusi Football Page.